Senin, 22 Oktober 2012

cerpen pertamuku,gagal buat lomba:)


PUISI SI PELOPER KORAN
Ditengah keramaian kendaraan, gerangnya terik matahari dan bunyi klakson yang saling bersahut-sahutan. Abdur, anak kecil berusia 12 tahun itu berjalan menyusuri tiap deret mobil yang menunggu  lampu hijau menyala. Ia membawa setumpuk Koran untuk ditawarkan kepada sopir-sopir yang sedang konsentrasi pada tiga buah lampu yang berdiri di depan perempatan jalan raya.
35 detik. Lampu hijau menyala. Kendaraan-kendaraanpun mulai berjalan. Terdengar kembali suara klakson yang begitu nyaring. Abdur kembali ke trotoar. Ia menghampiriku. Ia letakkan koran-korannya diatas kursi panjang dibawah pohon cemara. Ia terduduk lesu. Mengusap keringat yang membuat wajahnya menjadi kusam.  Sesekali terdengar ia menggumam, mungkin karena korannya yang tak laku itu.
“Kenapa kau ini, Dur. Koranmu tak laku lagi?”. Tanyaku.
“Iya nih Bang, dari tadi mondar-mandir tak ada yang mau beli. Sepertinya orang memang lebih suka menggunakan benda mirip genteng alias I-pak daripada Koran untuk mencari berita dan informasi”.celotehnya.
“Hahaha….I-pad, Dur. Bukan I-pak. Kau ini ada-ada saja. Hahaha….”. Aku tersenyum mendengar Abdur yang salah mengucapkan alat mirip genteng itu.
“Yah..maksudku begitu, Bang. Tapi apa yang ku bilang benar kan, Bang”.
Aku mengangguk mendengar keluhan Abdur. Menurutku apa yang dibilang Abdur memang benar. Orang-orang sekarang memang lebih suka yang praktis. Tidak mau menbolak-balik lembaran Koran. Mereka lebih suka memainkan jemarinya di atas layer LCD itu.
“Padahal Bang, Koran itu lebih banyak manfaatnya, lebih banyak berita dan informasi yang dimuat. Selain itu, banyak orang-orang sukses juga karena Koran. Salah satunya orang yang menjadi idolaku. Pak Dahlan Iskan”.
Aku mendengar semua cerita Abdur. Bocah kecil itu benar-benar mengidolakan sosok Dahlan Iskan. Berbagai artikel yang menceritakan menteri BUMN itu selalu ia gunting lalu ia tempelkan di triplek-triplek dinding rumahnya.
Sebenarnya Abdur anak yang cukup pintar. Namun, karena keterbatasan biaya ia tak bisa melanjutkan pendidikannya. Orang tuanya hanya mampu membiayai sampai tingkat taman kanak-kanak saja. Yah..lagi-lagi masalah keterbatasan ekonomi yang menjadi alasan salah satu anak Bangsa tak bias melanjutkan sekolahnya. Hampir setiap hari, bocah itu menyempatkan waktunya untuk belajar. Ia juga membeli beberapa buku bekas dan Koran yang memuat secuil materi pelajaran. Banyak materi yang ia pelajari. Bahkan, ia bisa mengerjakan soal UNAS tingkat SMP yang dimuat disalah satu Koran yang ia jual. Padahal usianya baru 12 tahun.
Setiap hari selalu ada berita yang  keluar dari mulut bocah itu. Dari kasus mega proyek yang menyeret beberapa petinggi Negara, kasus korupsi yang tak ada ujungnya, sampai  berita selebritis yang sedang bulan madu di luar negeri. Hahaha… aku sampai geli mendengarnya. Kadang aku malu pada Abdur,. Usiaku yang dua kali lebih tua darinya tak pernah tahu satu beritapun yang dimuat di koran. Bukannya aku tak suka pada Koran, hanya saja aku malas membaca.
“Beliau memang karismatik ya, Bang. Sederhana dan rendah hati. Di artikel yang kuguinting, Pak Dahlan pernah tidur di salah satu rumah penduduk yang reyot, beralaskan tikar dari pandan. Aku juga pernah melihat berita di tv apotek di depan lampu stopan. Pak Dahlan pergi ke istana naik KRL dan ojek, sampai-sampai satpam istana tak mengenalinya. Hahaha… wajar lah ya, Bang. Menteri kan biasa pakai mobil mewah”.
Aku tersenyum. Kau benar, Dur. Sepertinya para petinggi Negara itu tak pernah tahu penderitaan yang sedang dialami oleh rakyatnya. Mereka tak malu menggunakan kemewahan yang diperolehnya dari uang rakyat.
Dan kini hadir sosok Dahlan Iskan yang begitu karismatik. Berbagai Koran memuat artikel-artikel tentang dirinya. Sampai yang baru-baru ini kudengar, ada novel yang menceritakan perjalanan hidup dirinya. Rakyat memang benar-benar haus akan sosok pemimpin seperti beliau.
Ditengah-tengah pembicaraanku dengan Abdur, datang seorang lelaki bertubuh gemuk dan berkumis. Ia menghampiriku dan Abdur.
“Ini uangmu, Dur. Puisimu kemarin dimuat di Koran. Ini imbalannya”. Ia memberikan selembar uang seratus ribuan dan sebuah koran pada Abdur. Abdur kaget. Begitupun denganku. Abdur dapat uang, puisi Abdur dimuat. Batinku penuh tanda tanya. Sejenak diam, lalu suara kegirangan dilanjut tawa yang renyah dari Abdur terdengar. Bocah kecil itu begitu senang mendapatkan selembar uang itu. Loncat-loncat kegirangan.
“Aku dapat uang. Puisiku dimuat. Hore…hore. Bang aku titip koran ini ya, aku mau ngasih uang ini ke Emak.”.Abdur memberikan Koran yang memuat puisinya itu padaku. Ia berlari menuju rumahnya. Di tengah taman pojok jalan raya. Ia berlari seperti harimau yang mendapat daging yang lezat dari pawangnya. Kegirangan.
Mataku terfokus pada tingkah laku Abdur. Bocah kecil dengan baju yang sedikit sobek disana-sini. Berlari tanpa beralas kaki. Mengibar-ngibarkan uang seratus ribuannya itu. Aku tersenyum kecil. Bocah itu punya semangat yang luar biasa. Walaupun hanya seorang peloper Koran, puisi bisa dimuat. Kau memang hebat, Dur. Sesaat kemudian. Brakk …….cittt. Abdur terpental. Ia tertabrak sebuah mobil box yang malaju kencang. Aku kaget. Secepatnya aku menghampiri Abdur. Abdur tergeletak ditengah perempatan jalan raya. Tubuhnya berlumuran darah. Kaki dan tangannya penuh goresan luka. Aku terpaku melihat tubuh Abdur. Sesaat kemudian polisi datang. Mereka memasukkan tubuh Abdur di sebuah kantong panjang berwarna kuning. Kubaca tulisan dikantong itu.”kantong jenazah”. Aku benar-benar kaget. Abdur meninggal. Batinku penuh luka.



uuuu


Siang ini ada yang berbeda dengan siang-siang sebelumnya. Yah..tentu. kawan kecilku pergi menghadap Sang Ilahi. Sekarang, tidak ada lagi berita yang kudengar dari mulut bocah kecil penuh semangat itu. Tiba-tiba aku teringat pada sesuatu. Koran yang yang memuat puisi Abdur. Kuambil Koran itu dan membolak-balik lembaran-lembaran Koran itu. Hingga ku sampai halaman 18. Rubrik kumpulan puisi. Kucari puisi dan ini dia. Puisi Abdur.








Cahaya Bintang
Oleh : Abdur Khoirul


Cahaya bulan malam menerangi tubuh hitamnya
Debu dan asap selalu menemaninya
Ditengah lautan kendaraan, seorang menenteng gitar tuanya
Menyusuri tiap jalan yang beraspal
Menyanyikan lagu jalanannya

Kini ia berada diatas sebuah jembatan layang
Melihat gemerlap lampu kota
Menatap taburan bintang yang bercahaya
Seorang anak menggantungkan asa pada satu bintang yang bercahaya






selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar